skip to main | skip to sidebar

Pages

  • Beranda
  • teras
  • sekret lentera
  • anggota
    • enaknya di isi rubrik apa
    • enaknya di isi rubrik apa
    • enaknya di isi rubrik apa
  • gallery kita
    • enaknya di isi rubrik apa
    • enaknya di isi rubrik apa
    • enaknya di isi rubrik apa
  • Agenda Kita

SINAR BAHAGIA

Jendela Seni Rupa UKM Lentera UMM

  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
Kamis, 19 April 2012
Diposting oleh SINAR BAHAGIA di 15.55 0 komentar

Nyala Api “Lentera” Dalam Ruang “Archipelago”

 

Menyoal tentang kebudayaan, banyak kalangan yang mendefinisikan beragam pengertian mengenai kebudayaan tersebut. Beberapa dari mereka menganggap kebudayaan sebagai hasil dan bentuk dari perilaku sosial, sehingga kebudayaan berkaitan erat dengan kepribadian. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa kepribadian akan mewujudkan perilaku manusia. Adapun perilaku manusia dapat dibedakan dengan kepribadiaannya, oleh karena kepribadian merupakan latar belakang perilaku yang muncul dari dalam diri seorang individu. Sementara bagi kalangan lain, kebudayaan bukanlah perilaku melainkan abstraksi dari perilaku. Sebagian lagi berpendapat bahwa kapak, batu, candi, dan tembikar sebagai kebudayaan. Namun pendapat lainnya menganggap bahwa benda tersebut bukan sebagai kebudayaan, melainkan hasil dari kebudayaan.

Dalam pengertian sehari-hari, istilah kebudayaan sering diartikan sama dengan kesenian. Akan tetapi apabila istilah kebudayaan diartikan menurut ilmu-ilmu sosial, maka kesenian merupakan salah satu bagian dari kebudayaan saja.

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiolog, merumuskan kebudayaan sebagai “semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat”. Karya, menghasilkan tekhnologi dan kebudayaan kebendaan (material culture) yang dapat diberdayakan untuk keperluan masyarakat. Rasa, meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai kemasyarakatan yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Misalnya agama, ideologi, kebatinan, kesenian dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia yang hidup dalam masyarakat. Selanjutnya, cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir dari orang-orang yang hidup bermasyarakat yang menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan, baik yang berwujud teori murni, maupun yang telah disusun untuk langsung diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam buku Kritik Seni, Nooryan Bahari menyebutkan bahwa meskipun kebudayaan sangat bervariasi, namun ada suatu upaya merumuskan kembali konsep kebudayaan yang dilakukan oleh A.L Kroeber dan C. Kluckhohn dalam Culture: A Critical Review of Cconcept and Definition (1952), dimana dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan adalah keseluruhan pola tingkah laku dan pola bertingkah laku, baik secara eksplisit maupun implisit yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda materi.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai kebudayaan diatas, dapat dikatakan bahwa kebudayaan merupakan milik dari setiap masyarakat, baik oleh suatu bangsa ataupun ras tertentu. Namun yang menjadi pembeda adalah kebudayaan-kebudayaan tersebut muncul berdasarkan kesepakatan yang akhirnya antara satu dengan lainnya menjadi berbeda. Pun demikian dengan Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang sangat panjang jalan sejarahnya tentu saja memiliki budaya luhur yang menginginkan terwujudnya kesejahteraan bangsa yang sarat dengan sopan santun serta budaya-budaya ketimuran. Sebagai negara yang berbudaya, Indonesia, dari Sabang sampai Merauke memiliki beragam kebudayaan yang kaya dan variatif namun tetap dirangkum berdasarkan norma-norma ketimuran yang berjalan sepaham dengan ideologi ke-Indonesiaan. Hal inilah yang kemudian patut untuk dijaga dan dilestarikan agar akhirnya tidak melebur bersama modernisasi.

Modernisasi sendiri kerap kali cukup ekstrim menghantam budaya lokal yang lekat dengan tradisi dan kearifan lokal. Modernisasi  mau tak mau memporak-porandakan tradisi yang dibangun oleh nenek moyang yang dijadikan warisan untuk kehidupan anak cucu masa depan. Tentu saja ini tantangan anak masa kini yang cukup dilematis antara mempertahankan tradisi keaslian budaya atau mengikuti perkembangan zaman yang cenderung memaksa manusia untuk mengikutinya, termasuk memaksa manusia-manusia untuk melupakan tradisinya.

Melupakan tradisi dan bahkan meninggalkan tradisi merupakan retorika pedas yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana kebudayaan tersebut dari waktu kewaktu mulai tergerus. Hal lainnya yang sangat disayangkan adalah maraknya penjarahan budaya oleh bangsa lain, yang dengan gamblang mengklaim kepemilikan atas suatu budaya yang jelas-jelas merupakan milik bangsa kita, Indonesia.

Begitu banyak kebudayaan kita yang hilang, bisa jadi akibat dari pemiliknya (masyarakat Indonesia) tidak lagi menjaga, bahkan Ironisnya tidak mengetahui sejarah bahkan keberadaan budaya tersebut. Sebagai contoh, lagu “Rasa Sayang-sayange” yang diklaim oleh negara tetangga sebagai milik mereka. Belum lagi berakhir masalah lagu, Malaysia pun kembali mengklaim tari “Reog Ponorogo” sebagai warisan kebudayaan mereka yang di tampilkan dalam bentuk tarian “Barongan”. Tidak hanya Malaysia, Jepang pun sebagai negara maju ikut-ikutan mengklaim “Tahu” sebagai makanan produksi yang oleh Jepang disebut Tempeh.

Paparan diatas tidak hanya terbatas pada makna hilangnya kebudayaan ataupun merujuk pada permasalahan pergeseran kebudayaan, namun lebih dari pada itu. “Lentera” sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak dibidang kesenian utamanya Seni Rupa, berusaha membangun dan memunculkan kembali wacana kebudayaan yang seolah tak ada hentinya untuk dibahas. Hal ini kemudian di rangkum dan divisualisasikan melalui pameran “Archipelago” sebagai bentuk ekspresi seni yang menjiwai pameran akbar Lentera di tahun 2012 ini.

Archipelago yang diangkat sebagai nama pameran akbar Lentera ini digeneralisasi kedalam definisi luas. Tidak hanya dibatasi pada penggambaran tentang lautan sebagai penghubung daratan, yang selanjutnya disebut kepulauan, sehingga negara menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai tanah air. Namun lebih mengarah kepada beragamnya aspek dan sisi kehidupan yang melebur didalamnya. Keberagaman inilah yang akhirnya menjadi pola pembentuk kebudayaan yang pengekspresiannya tidak dibatasi oleh dimensi apapun. Hal ini menjadi semakin menarik manakala anggota Lentera pun merupakan bagian dari Archipelago yang pemaknaannya mengikuti pola paparan diatas.

Berasal dari beberapa daerah dengan suku berbeda, serta budaya yang berbeda merupakan sebuah keunikan yang menunjang untuk pengeksplorasian nilai-nilai kebudayaan yang rujukannya kearah eksekusi hasil ekspresi berkesenian. Melalui pameran ini, diharapkan pula agar penikmat seni dapat memandang lebih luas makna yang ingin disampaikan melalui beragam karya yang dihadirkan ke dalam ruang “Archipelago”. Esensi jangka panjang atas pelaksanaan pameran ini yakni karya-karya yang lahir dari hasil olah pikir bersama tersebut dapat menjadi sebuah sulutan atas terus menyalanya api Lentera.

TOR Pameran Akbar UKM Lentera UMM @2012
oleh Rahmawati Parman

[ Read More ]
Jumat, 17 Februari 2012
Diposting oleh SINAR BAHAGIA di 20.59 0 komentar

Pengalaman Lentera

 

  1. Pameran seni rupa “Langkah Pertama”, Malang 2001
  2. Pameran seni rupa “Satu Titik Setelah Nol”, Malang 2002
  3. Gambar bareng kain 30 meter “memperingati hari Bumi”
  4. Penggagas dari Kesenirupaan Rakyat Malang (KRAM)
  5. Pameran bersama seni rupa “Malang KRAM Sehari”, Malang 2002
  6. Pameran seni rupa “Ruwatan”, Malang 2003
  7. Seni Rupa X Interactive Portofolio CD, Lentera Malang 2003
  8. Pemrakarsa Dialog Seni Rupa antar kota “Ngopi Bareng Perupa Indonesia”, 2004
  9. Pameran seni rupa “Impian, Realitas, Refleksi”, Malang 2004
  10. Pameran bersama seni rupa “Indonation” Centuro Estudios Orientales, Alicante-Spanyol 2004
  11. Pameran bersama seni rupa “Indonation” Our Exhibition Venue, Santander-Spanyol 2004
  12. Pameran bersama seni rupa “Indonation” Casa Asia, Barcelona-Spanyol 2004
  13. Pameran seni rupa “Dual Fresh on October”, Malang 2004
  14. Pameran seni rupa “Warming Up”, Malang 2005
  15. Pameran seni rupa “Serangan Jantung”, Malang 2005
  16. Pameran seni rupa “Wake Up”, Malang 2005
  17. Pameran bersama “Seni Rupa Kampus“, Museum Empu Tantular-Surabaya 2006
  18. Pameran bersama “Post Card”, House of Lapaste-Surabaya 2006
  19. Pameran seni rupa “Pra Diklat”, Malang 2006
  20. Pameran seni rupa “Musim Semi”, Malang 2006
  21. Pameran bersama Peksiminal dan Peksiminas, Makassar 2006
  22. Pameran seni rupa “Pra Diklat”, Malang 2007
  23. Pameran seni rupa “Everyday Is So Wonderful”, Malang 2007
  24. Pameran bersama seni rupa “Perduli Aksi dengan Seni”, Malang 2007
  25. Pameran bersama seni rupa “Bang Wetan”, Serabaya 2007
  26. Pameran seni rupa “Rumah Pohon”, Malang 2007
  27. Pameran bersama Peksiminal dan Peksiminas, Surabaya dan Jambi 2008
  28. Pameran seni rupa “How Art u Today ?”, Malang 2008
  29. Pameran Paska Diklat LENTERA “First Step on December Art”, UMM 2008.
  30. Pameran Seni rupa “Teruslah Menyala”, Malang 2009
  31. Pameran komik Prancis, Perpus Kota Malang 2009
  32. Pameran Pra Diklat “ Cermin” Malang 2009
  33. Pameran Akbar Lentera “Leng Ji Leng Beh” Malang 2010
  34. Pameran Paska Diklat “1 st My art” Malang 2011
  35. Pameran Akbar Lentera and Friends “Motion”, Malang 2011
  36. Pameran bersama seni rupa “Minimum Explosion”, Malang 2011
[ Read More ]
Diposting oleh SINAR BAHAGIA di 19.33 0 komentar

SEJARAH UKM SENI RUPA LENTERA

 
Pada awalnya sebelum menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lentera bernama Kelompok Studi Seni Rupa Lentera yang berdiri pada tanggal 28 Mei 2001 yang di prkarsai oleh 14 orang mahasiswa yang sebagian besar dari Universitas Muhammadiyah Malang. Terbentuknya Lentera dikarenakan adanya kegelisahan dari teman-teman serta keinginan untuk mengaktualisasikan hobi dan kegiatan mereka di bidang seni rupa dalam sebuah wadah, yaitu dalam bentuk kelompok belajar. Kegiatan ini pun terealisasi ketika 14 mahasiswa ini melaksanakan pameran bersama dengan tema “Langkah Pertama” yang pada akhirnya sebagai moment untuk mendeklarasikan berdirinya Kelompok Studi Seni Rupa Lentera. Ke-14 mahasiswa tersebut antara lain adalah :
  1. K. Yulistio W
  2. Sadewa
  3. Henry Zulkifli
  4. Fery Prasetyo
  5. Yoan Ari S
  6. Ary
  7. Aris Surahmanto
  8. Neneng Taufiqi H
  9. Anthony
  10. Jaka
  11. Hari Wondo DG
  12. Asrori
  13. Jamal
  14. Antung
Hingga pada perkembangan selanjutnya Kelompok Studi Seni Rupa Lentera berubah menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Rupa Lentera -yang sekarang ini- seiring dengan perkembangannya dan memiliki kaderisasi serta membuka diri kepada setiap anggota yang ingin bergabung dan belajar bersama sesuai dengan cita-cita bersama.

[ Read More ]
Langganan: Komentar (Atom)

Terkini Post

  • SEJARAH UKM SENI RUPA LENTERA
    Pada awalnya sebelum menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lentera bernama Kelompok Studi Seni Rupa Lente...
  • Pengalaman Lentera
    Pameran seni rupa “Langkah Pertama” , Malang 2001 Pameran seni rupa “Satu Titik Setelah Nol” ,...
  • Nyala Api “Lentera” Dalam Ruang “Archipelago”
    Menyoal tentang kebudayaan, banyak kalangan yang mendefinisikan beragam pengertian mengenai kebudayaan tersebut. Beberapa dari mereka menga...

Labels

  • HOME (1)

ArtTikel Blog

  • ▼  2012 (3)
    • ▼  April (1)
      • Nyala Api “Lentera” Dalam Ruang “Archipelago”
    • ►  Februari (2)

Daftar Blog Saya

Pengikut

 

About Me

Foto saya
SINAR BAHAGIA
Lihat profil lengkapku
 
© 2012 SINAR BAHAGIA | Designs by Lentera Artist & Rumah Geje

Dirancang Oleh L E N T E R A & UKM Lentera Universitas Muhammadiyah Malang